DPRD Palangka Raya dorong pertanian jadi alternatif ekonomi ramah lingkungan

Anggota DPRD Kota Palangka Raya, Hatir Sata Tarigan.

kontenkalteng.com, Palangka Raya - Anggota DPRD Kota Palangka Raya, Hatir Sata Tarigan menilai sektor pertanian dan perkebunan dapat menjadi solusi konkret bagi masyarakat untuk keluar dari ketergantungan pada pertambangan rakyat.

Baca juga: Nelayan dan Petani di Kalteng Dapat Bantuan 1.880 Paket Konversi BBM ke BBG dari Pertamina

“Ini kesempatan baik. Warga sudah punya niat untuk beralih dari pertambangan yang berpotensi merusak lingkungan menuju sektor yang lebih berkelanjutan. Tugas pemerintah adalah memberi dukungan nyata,” katanya, Jumat (3/10).

Hatir mengungkapkan, keterbatasan warga saat ini lebih pada tahapan awal pembukaan lahan. Meski sudah siap bekerja, mereka membutuhkan bantuan peralatan maupun pendampingan dari pemerintah.

Ia menyebutkan, warga juga merencanakan pola tanam ganda. Sambil menunggu hasil dari komoditas jangka panjang seperti kelapa sawit, mereka berencana menanam jagung, sayur-mayur, dan tanaman cepat panen lain untuk menopang kebutuhan harian.

“Kalau pola ini didukung, hasilnya bisa langsung terasa. Selain ada pemasukan cepat, masyarakat juga punya harapan jangka panjang dari perkebunan,” ucapnya.

Hatir menekankan, strategi tersebut bukan hanya soal mencari pengganti pertambangan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Ia mengusulkan agar program percontohan dijalankan lebih dulu di satu kelurahan atau beberapa kelompok keluarga. Jika berhasil, model tersebut bisa diperluas ke wilayah lain di Palangka Raya.

“Dengan begitu, warga tidak hanya bergantung pada satu sumber penghasilan. Ekonomi mereka tetap bergerak tanpa harus merusak lingkungan,” ujarnya.

Menurut Hatir, peralihan dari pertambangan menuju pertanian akan lebih cepat tercapai jika ada sinergi pemerintah, masyarakat, dan semua pemangku kepentingan.

Langkah diversifikasi ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian dan perkebunan ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara membangun ketahanan daerah.

Dengan pola usaha yang berkelanjutan, warga tidak hanya memperoleh sumber penghidupan baru, tetapi juga turut menjaga keseimbangan lingkungan untuk generasi mendatang.

“Ini momentum penting. Kalau pemerintah serius mendukung, warga pasti siap mengerjakan. Hasilnya bukan hanya bagi kesejahteraan keluarga, tapi juga keberlanjutan lingkungan kita,” pungkasnya. (SUR/OR1)