Kotim Gelar FGD Bahas Alokasi Beban Pencemar Sungai Mentaya, Dorong Solusi Berkelanjutan

DLH Kotim saat melaksanakan FGD Penyusunan Dokumen Alokasi Beban Pencemaran Sungai Mentaya

kontenkalteng.com , SAMPIT - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Dokumen Alokasi Beban Pencemar Sungai Mentaya (Segmen Tengah - Hilir).  

Baca juga: Bupati Kotim Pastikan Evaluasi Perusahaan Sawit

Kegiatan tersebut  bertujuan untuk merumuskan strategi pengelolaan Sungai Mentaya yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Kepala DLH Kotim, Machmoer, mengatakan bahwa FGD ini menjadi wadah untuk mendapatkan masukan dan rekomendasi dari para ahli dan stakeholder terkait. "Tujuannya untuk  menyusun dokumen alokasi beban pencemar Sungai Mentaya yang komprehensif dan  akurat," katanya, Rabu 4 September 2024.

FGD yang  diselenggarakan pada Selasa (3 September 2024) itu  menghadirkan pemateri dari Universitas Gadjah Mada, Galih Dwi Jayanto. Ia memaparkan  kondisi  Sungai  Mentaya  yang merupakan sungai terpanjang di Kotim,  memiliki banyak anak sungai dan  merupakan  sumber  daya  air penting  bagi  masyarakat.  Namun,  kualitas  airnya  terus  menurun  akibat  pencemaran.

"Berdasarkan peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, perhitungan dan penetapan alokasi beban pencemar  air  perlu  dilakukan  oleh  Menteri, Gubernur,  atau  Bupati  sesuai  dengan  kewenangannya,"  jelas  Galih.

DLH Kabupaten Kotim  sedang  melaksanakan  kegiatan  penyusunan  dokumen  kajian  alokasi  beban  pencemar  air  Sungai  Mentaya  di  segmen Tengah  hilir, yang dimulai dari  titik  Bandara  H.  Hasan  Sampit  sampai  muara  Sungai  Mentaya.

"Kegiatan  ini  dilakukan  dengan  metode  swakelola  yang  bekerjasama  dengan  pusat  studi  lingkungan  hidup  universitas  Gajah  Mada  Yogyakarta  sebagai  tim  pelaksana," ujar Machmoer. 

Data  inventarisasi  beban  pencemaran  sungai  dan  alokasi  beban  pencemar  air  Sungai  Mentaya  yang  diperoleh  nantinya  akan  digunakan sebagai  bahan  informasi  yang  lengkap  mengenai  profil  Sungai  Mentaya,  khususnya  yang  berkaitan  dengan  daya  tampung  beban  pencemaran sungai.

"Dokumen  ini  juga  akan  menjadi  pedoman  bagi  pemerintah  daerah  dalam  menjalankan  program  perlindungan  dan  pengelolaan  sumber  daya alam  dan  lingkungan  hidup,"  ujar  Machmoer. 

Alokasi  beban  pencemaran  air  sungai  nantinya  akan  menjadi  syarat  dalam  penapisan  dokumen  persetujuan  teknis  pembuangan  air  limbah  ke badan  air,  sesuai  yang  tercantum  pada  peraturan  Menteri  LHK  Nomor  5  Tahun  2021.

"Ini  sangat  penting  untuk  menjamin  kelestarian  Sungai  Mentaya  dan  menciptakan  lingkungan  yang  lebih  bersih  dan  sehat  bagi  masyarakat," tutup  Machmoer.(DI/OR2)