Pelelangan Ikan Pondokdadap Malang, dari Masalah Sulitnya Akses Jalan hingga Pengembangan UMKM

Pelelangan ikan Pondokdadap, Malang, Jatim (foto: UPT PPP Pondokdadap)

Malang- Disiang yang terik itu Ricky , 32, memilih melipir untuk  berteduh diburitan truk yang sedang parkir di Pelabuhan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondokdadap di Jalan Sendang Biru,  Kampung Baru, Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten malang, Jawa Timur.  

Baca juga: UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap, Malang, Jawa Timur

Sambil menyeruput kopi dari gelas plastik, sesekali pria yang berprofesi sebagai sopir pengangkut ikan tuna dari Pelabuhan UPT PPP Sendang Biru ke Bali  itu bersenda gurau dengan teman-temannya sesama sopir.

“Sekarang ini sedang musim barat dan banyak nelayan yang tidak melaut. Akibatnya kami hanya bisa mengirim ke Bali maksimal 1 ton. Padahal biasanya bisa 5 ton dengan waktu tempuh cukup lama 24 jam, ”ujarnya. 

Lamanya perjalanan ke Bali itu kata Ricky yang warga asli Desa Sendang Biru karena Kondisi Jalur lintas Selatan (JLS)  yang sempit hanya muat untuk dua kendaraan jenis kecil .

Apalagi saat ini habis banjir di jalan dari pelabuhan lelang ke Malang ini yang sangat sulit sehingga memakan waktu lebih lama. Kondisi itu diperparah banyaknya pohon tumbang saat hujan dan jalan licin. 

Di hari biasa jika normal bisa memakan waktu 18 jam , namun jika hujan dan banjir makan waktu tempuh ke bali memakan waktu 24 jam.

“Lamanya waktu tempuh tentu akan membuat ikan tuna yang diangkut akan turun kualitasnya dan kalau itu yang terjadi maka harganya juga ikut turun,”keluhnya.

 Ricky berharap jalan lintas selatan yang menghubungkan Malang dengan tempat pelelangan ikan terbesar di Indonesia ini bisa diperlebar.

“Sehingga kendaraan yang membawa ikan tuna untuk ekspor bisa lebih besar dengan daya angkut banyak,”ujarnya.

Perbaikan Akses Jalan

Kepala UPT PPP Sendang Biru  Mufit Supriyanto mengakui kendala yang terjadi dilapangan yakni masih terhambatnya akses jalan darat dari Sendang Biru ke arah Malang yang satu-satunya akses jalan untuk angkutan ikan hasil tangkapan nelayan.  

“Pada saat hasil melimpah namun distribusi yang menjadi kendala seperti infrastruktur untuk mencapai lokasi pelelangan sangat susah,”ungkap Mufid.

Saat ini hanya hanya kendaraan kecil yang bisa mencapai tempat pelelangan. Padahal seharusnya kendaraan kontener bisa masuk  sehingga ikan yang akan diekspor seperti tuna bisa langsung diangkut dan nilai ekonomisnya akan lebih tinggi sehingga nelayan bisa sejahtera.

“Kami Kami berharap pemerintah mau memperlebar jalan sehingga kendaraan pengangkut hasil laut bisa mencapai tempat,”katanya. 

Dari data UPT PPP Pondokdadap  jumlah kapal milik nelayan di Sendang biru sebanyak 649 unit.

Jumlah produksi ikan seperti tuna dan cakalang hingga Bulan November 2022 sebanyak  10.559.772 kg dengan nilai produksi Rp 226,8 miliar. 

Angka ini lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2021 yang jumlah produksinya 11.250.430 kg dengan nilai produksi 180,9 miliar.

Mufid mempunyai alasan mengapa menurun. Memang jumlah   produksi tahun 2021 lebih tinggi dibandingkan dengan 2022, namun untuk  nilai produksi tahun 2022 lebih tinggi dari 2021.

Ini  menunjukan pola pikir (mainset) nelayan mulai berubah dari yang dulunya menginginkan hasil produksi banyak, tapi sekarang mereka  menginginkan nilai prosuksinya yang meningkat.

“Artinya saat ini nelayan saat ini  menerapkan penangkapan terukur sehingga sumber daya laut tak dikuras besar-besaran dan kesejahteraan nelayan semakin meningkat,”terangnya. (Sur-OR2)