Pengamat Perekonomian dan Perkebunan Rawing Rambang (dok. kontenkalteng.com)
kontenkalteng.com , Kelapa sawit saat ini masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia di tengah tekanan isu lingkungan global dan ketatnya persaingan pasar internasional.
Baca juga: Mampukah Minyak Kelapa Sawit Menjadi Penopang Ekonomi Nasional Menghadapi Resesi Ekonomi Global
“Produktivitasnya yang tinggi dan daya serap tenaga kerja yang besar membuat komoditas ini bukan sekedar penyumbang devisa tetapi juga penggerak ekonomi daerah terutama di kawasan tropis seperti Kalimantan dan Sumatera, “kata Pengamat Perekonomian dan Perkebunan Rawing Rambang, Senin (02/03/2026).
Dijelaskan Rawing Rambang , nilai posisi strategis saat ini tak lepas dari perubahan peta kekuatan minyak nabati dunia sejak dekade 1990-an sekarang hampir 60 persen minyak nabati dunia dikuasai oleh sawit inilah yang membuat sawit kemudian dianggap sebagai dianggap mengancam dan diri persoalan.
“Secara global luas perkebunan sawit tercatat sekitar 16,83 juta hektar jauh lebih kecil dibandingkan total tanaman minyak nabati lainnya yang mencapai 130 juta hektar ,”tuturnya.
Namun justru itu luasannya relatif kecil namun sawit mampu menjadi pemasok utama kebutuhan minyak nabati dunia, jelas dia.
Keunggulan ini sekaligus memicu dinamika geopolitik dan ekonomi terutama dari negara-negara yang tidak memiliki kondisi agromat ideal untuk menanam sawit ,”Tanaman ini hanya tumbuh optimal di wilayah tropis dengan kelembaban tinggi dan paparan sinar matahari yang memadai itulah sebabnya Kalimantan dan Sumatera menjadi kawasan strategis dalam rantai pasok global ,”ungkap mantan Kepala Dinas Perkebunan Kalteng ini.
Dijelaskan Rawing , sementara untuk tingkat regional khusus Kalimantan Tengah sawit telah munggah mengubah laskar ekonomi secara signifikan .
“Perputaran uang dari aktivitas perkebunan memicu tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru mulai dari perdagangan lokal jasa transportasi hingga usaha mikro masyarakat ,”pungkas Rawing.
Penulis : Yanti
Editor : Baskoro