Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Yuas Elko saat pimpin rapat
kontenkalteng.com, Palangka Raya-Pemerintah Provinsi Kalteng mengapresiasi langkah-langkah seluruh stakeholders yang berkomitmen melakukan upaya-upaya penurunan inflasi di Kalteng. Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi (Rakor) Pengamanan Pasokan dan Harga Pangan Jelang Puasa dan Idul Fitri 2024 bersama Mendagri Dalam Negeri, Prov. Kalteng masuk dalam tingkat provinsi inflasi terendah.
Baca juga: Sekda Kalteng Laporkan Stunting dan Inflasi Hingga Penyelenggaraan Pemerintahan Umum Ke Sekjen Kemendagri
Hal itu dikatakan Staf Ahli Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Yuas Elko pimpin Rapat Evaluasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terhadap hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terkait Inflasi Kalteng Bulan Februari 2024, bertempat di Ruang Rapat Bajakah, LT. II Kantor Gubernur Kalteng, Senin (4/3/2024).
"Tingkat inflasi month to month (m-to-m) dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) Prov. Kalteng bulan Februari 2024 masing-masing sebesar -0,46 persen dan -0,27 persen,"jelasnya.
Kepala Perwakilan BI Prov Kalteng Taufik Saleh dalam laporannya menyampaikan Kalteng mengalami deflasi cukup dalam ditopang oleh penurunan harga daging ayam ras. Pada Februari 2024, Kalteng mencatatkan deflasi sebesar 0,46% (mtm), menurun signifikan dibandingkan Januari 2024 yang inflasi sebesar 0,20% (mtm). Deflasi ditopang oleh normalisasi harga daging ayam ras seiring pasokan yang kembali normal pasca kelangkaan stok pada bulan lalu. Namun demikian, kenaikan harga beras menahan deflasi lebih dalam akibat kemunduran jadwal masa tanam pada daerah sentra produksi dampak El Nino. Kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) rata-rata sebesar 10% per 1 Januari 2024 masih mendorong kenaikan harga Sigaret Kretek Mesin (SKM).
Disampaikannya bahwa tekanan inflasi di Kalteng pada Maret 2024 diperkirakan meningkat. Adapun faktor pendorong inflasi dikarenakan pergeseran panen komoditas tanaman pangan karena El Nino yang berlangsung lebih panjang menggeser masa tanam komoditas terkait,potensi terjadinya La Nina pada pertengahan tahun 2024, tarif cukai hasil tembakau (CHT) naik 10% mulai Januari 2024, keterbatasan pasokan beberapa komoditas holtikultura karena belum memasuki masa panen, potensi menurunnya hasil tangkap perikanan karena curah hujan tinggi dan peningkatan permintaan pada periode HBKN Ramadhan dan Idulfitri.
"Sementara, faktor penahan inflasinya adanya pengendalian inflasi oleh Pemda dan penanganan perubahan cuaca ekstrem oleh Dinas terkait, berlangsungnya panen beras pada bulan Maret 2024 serta penurunan harga BBM non subsidi per 1 Januari 2024. Prakiraan alokasi subsidi BBM tahun 2024 meningkat 10%,"ujarnya. (Yanti-OR1).