Gubernur Kalteng Sugianto Sabran (foto: Diskominfosantik Kalteng)
Palangkaraya- Gubernur Kalteng Sugianto Sabran menyatakan dirinya telah membuka luas ruang dialog dengan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Merdeka (GERAM) yang mengusung temu Evaluasi Kinerja Gubernur Kalteng dan Wakilnya.
Baca juga: Gubernur Pastikan Lepas Kontingen Porwanas PWI Kalteng
Pernyataan Sugianto Sabran ini menanggapi soal ricuh yang terjadi dihalaman Kantor Gubernur Kalteng saat demontrasi jilid III mahasiswa yang tergabung dalam GERAM, Senin (14/11/2022) lalu yang kemudian memicu aksi dorong dan ada beberapa peserta terluka.
“Padahal kita mempersiapkan Aula Jayang Tingang Kantor Gubernur Kalimantan Tengah sebagai tempat dilog terbuka dengan pihak GERAM. Namun mereka menolak berdialog dalam ruangan,” ujarnya dalam keterangan tertulis Diskominfosantik Kalteng, Rabu (16/11/2022)
Usai pendemo menolak berdialog dalam ruangan, lanjutnya, kemudian dirinya memutuskan untuk turun ke lapangan untuk menemui massa, namun GERAM tidak bersedia memanfaat peluang itu dengan baik, terangnya.
Sugianto Sabran juga menyebutkan, karena tema dari aksi itu tentang evaluasi kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, maka yang dipahaminya adalah mahasiswa yang kritis ini akan membawa data-data sebagai bahan evaluasi kinerja dirinya.
“Untuk itu saya siap dan terbuka mendengarkan dan berdialog, maka tempat yang tepat adalah di sebuah ruangan atau aula yang memadai, bukan di jalanan,” tegasnya.
Karena sebagai pengemban amanat rakyat Kalteng menurut Sugianto, tugas gubernur adalah pelayan rakyat, tugasnya adalah menyerap aspirasi, mendengar dan melihat langsung setiap denyut kehidupan rakyatnya.
“Selanjutnya bagaimana membuat langkah-langkah dan kebijakan yang berpihak pada rakyat, tentu dengan dukungan semua unsur dan elemen masyarakat, termasuk kaum intelektual kampus," pungkasnya
Seperti diketahui, insiden yang terjadi antara aparat Polisi Pamong Praja (Pol PP) Provinsi Kalimantan Tengah, dipicu karena ada upaya sebagian kelompok untuk menurunkan bendera negara Merah Putih menjadi setengah tiang. Hal itu kemudian diduga sebagai salah satu pemicu bentok antara aparat dengan para pendemo. (Dhan-OR1)