Euforia Lebaran Berujung Timbangan Naik? Ini Penjelasan Dokter

Ilustrasi (Foto: Ist)

Kontenkalteng.comLifestyle - Usai merayakan Hari Raya Idulfitri, banyak orang mulai dihadapkan pada satu kenyataan yang kerap terjadi setiap tahun, angka timbangan yang meningkat. Beragam hidangan khas Lebaran  mulai dari opor, rendang, hingga kue manis, sering kali sulit ditolak setelah sebulan penuh berpuasa.

Baca juga: Lokasi dan Jadwal Penukaran Uang Baru di Palangka Raya untuk Lebaran 2023

Spesialis kedokteran olahraga, Listya Tresnanti Mirtha, mengungkapkan bahwa kenaikan berat badan berkaitan erat dengan surplus kalori yang dikonsumsi selama momen tersebut. Ia menjelaskan, tambahan sekitar 7.000 hingga 7.700 kalori dapat berkontribusi pada kenaikan sekitar 1 kilogram berat badan.

Meski demikian, ia menilai kenaikan berat badan setelah Lebaran bukanlah masalah besar jika hanya terjadi sesekali. Yang perlu diwaspadai adalah pola berulang setiap tahun, ketika berat badan belum sempat kembali normal, namun kembali naik di momen Lebaran berikutnya.

“Yang menjadi masalah adalah ketika siklus ini terus berulang setiap tahun tanpa sempat kembali ke berat badan awal. Kondisi ini berpotensi memicu gangguan metabolik,” ujarnya dalam sebuah acara bincang kesehatan, mengutip insertlive.com

Selain faktor makanan, kenaikan berat badan juga dapat dipengaruhi oleh retensi cairan akibat perubahan pola konsumsi selama liburan. Kurangnya aktivitas fisik setelah Lebaran juga memperparah kondisi, karena tubuh belum kembali membakar kalori secara optimal.

Ia menekankan pentingnya segera kembali ke rutinitas sehat, baik dari segi pola makan maupun aktivitas fisik, agar kenaikan berat badan tidak berlarut-larut. Terlebih, sajian manis dan berlemak yang melimpah saat Lebaran kerap membuat seseorang sulit mengontrol asupan.

Dengan kesadaran dan pengaturan gaya hidup yang tepat, kenaikan berat badan pasca-Lebaran sebenarnya dapat dikendalikan dan tidak berkembang menjadi masalah kesehatan jangka panjang. (net/*)