EMOSI

Ilustrasi Emosi (Dok. Republika)

Emosi akan mendatangkan petaka. Dalam ilmu silat –perguruan apa pun- suhu, pelatih, pendekar, akan mengajarkan murid-muridnya untuk mengendalikan emosi. Karena itulah salah satu jurus terpenting yang sering diajarkan untuk mengkandaskan perlawanan musuh adalah  memancing lawan terbakar emosinya.

Baca juga: “Terapi SEFT Alat Saya Membantu Masyarakat Kembali Sehat”

Agama juga mengajarkan hal serupa: menahan emosi. Jika emosi mulai membakar diri, dalam Islam, ada ajaran yang indah: ambilah air wudhu; berwudhulah. Sejuknya air memiliki efek luar biasa. Dan tentu membasuh muka, tangan –atau bahkan mandi- untuk meredam emosi bisa dilakukan siapa pun –bahkan seorang agnotis.

Puluhan tahun silam, saat kuliah di Yogya saya memiliki pengalaman yang hingga kini tak terlupakan. Hari itu, Jumat, kami –serombongan mahasiswa- keluar dari Asrama Kalteng untuk salat Jumat di sebuah masjid di tepi Kali Code. Masjid yang namanya harum seantero Yogyakarta.

Usai salat Jumat, kegaduhan terjadi. Seorang pengurus mesjid –atau setidaknya aktivis mesjid tersebut- memergoki seorang pemuda tengah mengambil sandal jamaah. Terpergok dan diteriaki, pemuda sial tak bisa mengelak. Dan pemandangan itu terjadi: sang aktivis tersebut memukuli bertubi-tubi sembari berteriak, bahwa inilah yang selama ini melakukan pencurian sandal dan sepatu di masjid itu.

Kenangan itu tak pernah lepas dari kepala saya: masjid yang indah dan damai, Kali Code, pemuda malang, dan pukulan dan teriakan emosi itu. Juga: wajah babak belur dan muka ketakutan.

Semestinya itu tak terjadi. Semestinya pemuda itu digelandang saja ke dalam masjid. Dan siapa tahu kelak ia bisa menjadi petugas kebersihan jika ia memang pengangguran. Bukankah selalu ada alasan seseorang untuk mencuri?  Mungkin ia kelaparan. Mungkin ia perlu uang untuk membayar SPP adiknya.

Emosi telah membuat orang gelap mata dan kita kehilangan akal sehat, juga kemanusiaan. Hal yang membedakan kita dengan manusia.

Ade Armando, dosen malang itu, adalah korban emosi. Ketika kita melihat foto-foto itu -yang dalam zaman sekarang demikian sulit untuk dicegah dengan cepat masuk ke ponsel kita- kita bisa bertanya: kemana nilai-nilai kemanusiaan itu? Demikian mudah orang tersulut emosi dan kemudian hilanglah semua nilai-nilai yang selama ini tertanam di dalam kepalanya –atau setidaknya pernah ia tahu- : nilai moral, nilai kemanusiaan, atau nilai-nilai agama. Kita tahu tak ada agama manapun yang mengajarkan dendam –hal yang pasti membangkitkan emosi.

Kasus Ade Armando menunjukkan pada kita: ada yang sakit pada masyarakat kita. Mungkin kita termasuk. (Baskoro)