Lanskap Karya Seni Mural Yessi Nur Mulianawati pada event International Public Art Festival, Cape Town, Afrika Selatan. (laman Kemenparekraf RI/Foto: Shaun Cloete)
Pernah melihat atau menikmati gambar-gambar terbuat dari cat ditembok seperti tembok rumah, pagar, atau bangunanan bertingkat dengan warna-warni yang indah? Itu adalah salah satu karya yang disebut mural.
Baca juga: 6 Pasar Unik Ini Jadi Daya Tarik Wisatawan, di Kalimantan Juga Ada Lho!
Namun jangan salah, mural beda dengan graffiti walaupun keduanya sama-sama dibuat pada bidang besar yang berada di ruang public.
“Mural adalah seni yang dibuat di media tembok. Sering dianggap mirip dengan graffiti. Tapi kalau grafiti ada culture-nya sendiri. Dari segi penggunaan media juga berbeda karena mural menggunakan cat, sedangkan grafiti menggunakan spray paint. Seni mural juga bisa di mana saja, bisa di tembok, jalanan, basketball court dan bidang luas lainnya,” Yessi Nur Mulianawati, seniman mural yang berkarya sejak 2013.
Mural, adalah seni ekspresif dan seni sosial karena bisa dilihat oleh semua orang. Dan menggambar di media yang luas seperti di permukaan tembok dapat memberikan kepuasan sendiri. Atas dasar itulah, kata Yessi seperti melansir dari laman Kemenparekraf RI, dia yang mulanya menggambar di atas kanvas lalu beralih ke dinding karena ingin karyanya dinikmati oleh banyak orang .
Ciri yang paling menonjol dalam mural milik Yessi terlihat dari pemilihan warna-warna yang ceria dan meriah. Yessi juga menyimbolkan pesan sesuai dengan hal-hal atau isu yang berada di sekitar lokasi dinding mural yang akan dia gambar.
Yessi menjelaskan, proses pertama sebelum menggambar mural adalah dengan mengambil foto dindingnya dulu.
Lalu, dengan bantuan aplikasi photo editing, dia “membagi” foto dinding menjadi beberapa kotak yang akan menjadi patokannya ketika menggambar. Lalu, setelah semuanya sesuai, Yessi siap mengubah dinding polos menjadi mural beraneka warna.
“Tantangan tersulit bagi saya justru adalah melawan ketinggian. Bahkan sampai sekarang, saya harus selalu beradaptasi dari awal lagi setiap membuat mural karena saya takut ketinggian.,” tutur Yessi.
Kisah awal perjalanan Yessi dimulai dari India, ketika dia terjebak akibat pandemi pada 2020 lalu. Di sana. Di sana, Yessi mengaku putus asa karena dia tidak bisa pulang ke Indonesia dan tidak bekerja.
“Saya kemudian mendapat informasi ada sebuah festival dan pendaftarannya sedang dibuka. Kemudian saya mendaftarkan dirinya dan ternyata lolos sebagai peserta,”terangnya.
Pada festival itu dia menggambar di permukaan dinding seluas 15 x 14 meter pada sebuah gedung berlantai 4. Ia memasukkan elemen-elemen yang ditemuinya temui di sekitar Kannagi seperti koral, alga, dan bunga.
Rupanya mural di Kannagi direspons dengan baik oleh panitia dan masyarakat sekitar. Hal ini diakui Yessi menjadi pemacu semangatnya untuk terus berkarya. Yessi melihat titik terang dan ingin lebih serius lagi dalam seni mural.
“Selanjutnya sayaterbang ke Pompeii, Italia, setelah lolos dan terdaftar sebagai peserta untuk Pompeii Street Festival. Selesai di Pompeii, Yessi berpindah lagi ke Cape Town, Afrika Selatan, dalam acara Internasional Public Art Festival,ujarnya. (OR2)