Pemkab Kotim Bentuk Warga Peduli AIDS Hingga Ke Desa

Wakil Bupati Kotim bersama WPA

kontenkalteng.com , SAMPIT - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) bentuk Warga Peduli AIDS (WPA) hingga tingkat desa. Hal ini untuk pencegahan dan pananggulan HIV/AIDS, Tuberklosis dan Malaria (ATM). 

Baca juga: Kasus HIV AIDS di Kabupaten Kotim Didominasi Usia Produktif

"Saya menyambut baik program yang  dilakukan Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes) lebih- lebih mengarah sasaran pada tingkat pedesaan dan kelurahan," kata Wakil Bupati sekaligus Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Kotim, Irawati, Kamis 15 Agustus 2024.

Diungkakan,  Adinkes membantu pemerintah dalam menyampaian informasi dan melakukan langkah-langkah strategis dalam upaya pencegahan dan pananggulan ATM lintas sektor. 

Lebih lanjut kata dia, program Adinkes ini perlu didukung dan disambut baik. Upaya mempercepat penanggulangan HIV/AIDS yang selama ini dilakukan oleh pemerintah dan masih berputar pada persoalan pencegahan dan penanggulangan yang secara medis terdapat kasus-kasus HIVdan AIDS  tidak lepas persoalan medis kurang menyentuh faktor-faktor sosial kemasyarakatan yang ada sehingga berakibat pada kurangnya melibatkan masyarakat secara sistematik dan terencana.

"Maka sangat lah wajar akan muncul stigma dari masyarakat, untuk itulah dengan program lintas sektoral ini dengan adanya dukungan anggaran desa perlu dibentuk wadah WPA setiap desa dan kelurahan," ujarnya. 

Dijelaskan, WPA kelompok masyarakat yang terdiri dari berbagai komponen dalam suatu lingkungan masyarakat baik di tingkat desa, kelurahan, RT/RW yang ada suatu lingkungan tempat tinggal. Sehingga  WPA menggerakan masyarakat untuk ikut serta terlibat secara langsung dalam upaya pencegahan dan pananggulan ATM

ATM harus dicegah dan ditanggulangi. Dimulai dari kesiapan anggaran dan menjadi prioritas sebagai program strategis mensuksekan program ending eleminasi there zero 2030  yaitu tidak ada infeksi baru HIV,  kematian karena AIDS dan stigma dan diskriminasi .

"Dengan dibentuknya warga peduli AIDS di desa dan kelurahan pada intinya melibatkan masyarakat perlu didukung semua pihak dalam menyusun perencanaan terkait pencegahan dan pananggulan HIV/AIDS, tuberklosis dan malaria disetiap desa," tutupnya.(DI/OR2)