Antusiasme para siswa mendengarkan penjelasan Pemandu Museum Balanga.(dok. Diskominfosantik Kalteng)
Ada terobosan yang dilakukan Museum Balanga milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng untuk menjaga keciantaan terhadap kealiran local.
Baca juga: Menjaga Adat dan Budaya Dayak Melalui Peninggalan Barang Leluhur
Dilatarbelakangi jauhnya penjangkauan SLTA atau SLTP yang berada di pedalaman Kalteng untuk mengunjungi museum, pihak pengelola akhirnya meluncurkan progam museum keliling.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng Kalteng Adiah Chandra Sari menjelaskan bahwa program ini dalam rangka menanamkan kecintaan generasi muda terhadap budaya dan kearifan lokal.
"Jangan sampai budaya dan kearifan lokal kita punah karena generasi muda kita tidak mengenal akar budayanya terkhusus budaya melalui peninggalan sejarah,” ungkap Diah.
Selain itu museum keliling ini adalah untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Kalimantan Tengah melalui beberapa koleksi yang ada di Museum Balanga.
“Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kecintaan para pelajar SLTP dan SLTA yang ada di Nanga Bulik akan budaya dan kearifan lokal suku dayak di masa lampau,”ujarnya.
Salah satu contoh yang dipamerkan dalam kegiatan itu kata dia adalah alat-alat berladang (bercocok tanam atau berkebun) pada zaman dulu termasuk gantang, kalaya behas, keba (alat gendong bayi terbuat dari kayu), palundu/lanjung, baluh Asip, sarangan danum Gita, sarangan danum mihup, tampi halap, jahunan, tuyang (alat ayunan bayi terbuat dari kulit kayu).
Para pelajar dapat mengetahui budaya adat dayak pada masa lampau yang dimana pengenalan tersebut merupakan bagian dari sejarah kehidupan manusia yang merupakan warisan budaya Kalimantan Tengah dan mata pelajaran sejarah di sekolah.
“Melalui museum keliling ini para pelajar dapat mencintai budayanya sendiri dan melihat keunikan pada zaman dulu, bagaimana suku dayak pedalaman mampu bertahan hidup,”pungkasnya.(OR1)