Antrean Panjang di SPBU Sampit, Pertamina Sebut Stok BBM Aman, Konsumsi Membengkak

Antrean kendaraan di salah satu SPBU di Kota Sampit beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)

Kontenkalteng.com, Sampit – Antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir memicu isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).

Baca juga: Pertamina Pastikan Stok BBM Aman Jelang Tahun Baru 2022

Situasi itu terjadi bersamaan dengan kenaikan harga BBM non-subsidi sejak pertengahan April 2026.

Pertamina Patra Niaga menegaskan pasokan BBM di wilayah ini tetap aman dan menyebut lonjakan konsumsi sebagai salah satu penyebab penumpukan di SPBU.

Penegasan itu disampaikan usai pertemuan Pertamina dengan Komisi II DPRD Kotim, Senin (20/4/2026).

Pengawas Operasional Depot Pertamina Patra Niaga Sampit, Afif, menyatakan distribusi BBM ke SPBU berjalan normal, bahkan diklaim melebihi kebutuhan harian.

”Kalau dilihat dari suplai, tidak ada masalah. Bahkan pengiriman ke SPBU kami penuhi sesuai kebutuhan, termasuk jika ada permintaan tambahan,” ujarnya.

Afif menjelaskan, antrean yang terjadi bukan disebabkan stok menipis, melainkan lonjakan konsumsi yang tidak biasa.

Salah satu faktor yang dinilai memicu kondisi ini adalah perbedaan harga yang cukup jauh antara BBM untuk sektor industri dengan BBM yang dijual di SPBU umum.

”Selisih harga yang cukup jauh membuat sebagian pengguna dari sektor industri ikut mengisi di SPBU, sehingga terjadi penumpukan,” jelasnya.

Kondisi tersebut muncul setelah harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan signifikan.

Saat ini, harga Pertamax Turbo berada di kisaran Rp19.850 per liter, Dexlite Rp24.150 per liter, dan Pertamina Dex sekitar Rp24.450 per liter.

Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter dan solar subsidi Rp6.800 per liter, sedangkan Pertamax tetap di angka Rp12.600 per liter.

Perbedaan harga ini dinilai mendorong peralihan konsumsi, termasuk dari kalangan industri yang seharusnya memiliki jalur distribusi tersendiri.

”Secara aturan, penggunaan BBM di SPBU itu untuk masyarakat umum. Sektor industri seharusnya memiliki skema pengadaan sendiri,” tegas Afif.

Ia menambahkan, distribusi BBM jenis Dexlite di wilayah Kotim, Seruyan, dan Katingan berkisar antara 140 hingga 180 kiloliter per hari, angka yang jauh di bawah kebutuhan sektor industri yang bisa mencapai ratusan kiloliter per hari.

”Jadi kalau dilihat, stok itu tersedia. Hanya saja konsumennya meningkat,” katanya.

Terkait dugaan praktik pelangsiran yang sempat ramai dibicarakan, Afif menilai hal tersebut bukan faktor utama pemicu antrean panjang di SPBU.

Meski demikian, antrean di sejumlah titik masih terlihat dan berdampak pada aktivitas masyarakat, sehingga situasi ini terus menjadi sorotan di tengah kenaikan harga BBM non-subsidi yang cukup tinggi dalam waktu singkat.

Penulis  :Deviana 

Editor     : Gunawan