Pajak Sektor Industri Pengolahan Kalteng Rp 256,92 Miliar, CPO Masih Penyumbang Terbesar

Ilustrasi (Wallpaper Flare)

Palangka Raya-Dari data Kantor Wilayah ( Kanwil) Ditjen Perbendaharaan Kalteng, hingga Febuari 2023, Crude Palm Oil (CPO) masih menjadi salah satu penyumbang terbesar penerimaan pajak dari sektor industri pengolahan yang jumlahnya mencapai Rp. 265,92 Miliar.

Baca juga: Mampu Serap 320 Ribu Pekerja, CPO Penyumbang Pajak Terbesar di Kalteng

Hal itu dikatakan Hari Utomo, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kalteng, Kamis (16/3/2023).

"Industri pengolahan di Kalteng yang didominasi  hasil dari kelapa sawit berupa CPO dan turunannya itu bisa tumbuh hingga 70,3 persen, " ujarnya.

Pada tahun 2022 penerimaan pajak dari sektor industri pengolahan baru Rp 156,15 Miliar, namun di tahun 2023 angka itu melonjak  hingga Rp 265,92 Miliar.

Kondisi ini  bisa terjadi karena selain realisasi penerimaan yang tinggi di Februari 2013 juga karena adanya restitusi (pengembalian) yang kecil.

"Terdapat peningkatan harga CPO akibat perubahan bio diesel dari B39 ke B 35 dan penurunan produksi CPO karena musim hujan," Papar Hari.

Selain sektor pengolahan, sektor lain penyumbang penerimaan pajak terbesar di Kalteng hingga Febuari 2022 yakni  pertanian, kuhutanan dan perikanan Rp 263,31 Miliar (202,4 persen).

Kemudian perdagangan besar dan eceran reparasi Rp 219,72 Miliar (17,1 persen), pertambangan dan penggalian Rp 144 Miliar (79, 7 persen)

Dibagian lain Hari Utomo menyebutkan, inflasi Kalteng pada Februari 2023 berada pada angka 0,10% (month to month/mtm). Angka ini relative  lebih terkendali ketimbang inflasi nasional yang berada pada angka 0,16% (mtm).

Angka inflasi di Kalteng kata dia tercermin pada angka inflasi di Kota Palangka Raya sebesar 0,11% dan Sampit 0,10%. Secara tahunan inflasi Kalimantan Tengah mencapai 5,93%(year on year/ yoy)  

Namun secara tahunan angka inflasi di Kalteng  sebesar 5,93% (yoy)  atau lebih  tinggi dari nasional sebesar 5,47% (yoy).

“Penyebabnya antara kenaikan tarif angkutan udara, kenaikan harga beras, hingga  terhentinya supply komoditas  dan konflik global,”jelasnya. (Dhan-OR1)