Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Jati Asmoro.
kontenkalteng.com , PALANGKA RAYA - Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Jati Asmoro meminta pemerintah kota dan seluruh satuan pendidikan di daerah ini agar dapat gencar mengajarkan budaya Kalimantan Tengah ke generasi muda.
Baca juga: Program Museum Keliling Kalteng , Tanamankan Kecintaan Kearifan Lokal
"Banyak generasi muda sekarang itu memang kurang mengetahui budaya kita, budaya asli Kalimantan Tengah. Ini tentu sangat prihatin ya, padahal budaya itu merupakan identitas suatu daerah," katanya, Minggu (20/4/2025).
Untuk itu dia meminta pemerintah harus bisa membuat terobosan-terobosan agar dalam mengajarkan budaya ke generasi muda tidak menjadi suatu kegiatan yang membosankan.
Dia menyarankan agar pemerintah kota dapat mengikuti perkembangan zaman dalam mengajarkan apa itu budaya kepada generasi muda sehingga menjadi kegiatan yang menyenangkan.
"Budaya itu kan tidak monoton di itu-itu saja. Tetapi kan sekarang banyak yang telah mengikuti perkembangan zaman, misalnya pada seni tari, mungkin bisa diselipkan musik modern. Asalkan tidak mengeyampingkan atau menghilangkan budaya aslinya," ucapnya.
Jati juga meminta kepada satuan pendidikan agar lebih meningkatkan mata pelajaran muatan lokal sebagai media menanamkan beragam jenis budaya yang ada di Kalimantan Tengah.
Dengan menanamkan budaya sejak anak usia dini, dia meyakini bahwa generasi muda kedepan akan selalu membaya budayanya ketika berada di luar Kalimantan Tengah.
"Memang pelajaran akademik ini sangat penting dalam menunjang prestasi anak, tetapi kan perlu juga diimbangi dengan kebudayaan yang suatu saat akan berguna bagi generasi muda kita ini," ujarnya.
Politisi partai Gerindra ini juga berharap, seluruh pelaku seni di Kota Palangka Raya bisa mendapatkan wadah untuk mempertunjukkan keseian dan budaya dari masing-masing sanggar.
Hal tersebut dilakukan agar budaya yang ada di Kalimantan Tengah dapat terus tumbuh dan berkembang, yang nantinya akan membuat penikmat budaya di Kota Palangka Raya meningkat.
"Coba kita lihat, selama ini pertunjukkan seni dan budaya itu pasti ramai penonton. Artinya apa? Sebenarnya banyak masyarakat yang ingin menyaksikan, hanya saja ruang lingkupnya yang terbatas," pungkasnya. (Sur/OR1)